Makin hari kondisi umat muslim semakin memilukan, mulai dari
terpecah belahnya wilayah kaum muslimin menjadi 57 bagian, atau lebih kecil
lagi, hingga hancurnya pemikiran Islam pada tiap-tiap insan, bahkan yang muslim
dengan nonmuslim hampir tidak bisa dibedakan. Padahal, dahulu negara islam
adalah satu bagian utuh, satu tubuh, satu pijakan dan satu gerakan yang sulit dipisahkan karena memiliki karakter
umatan wahidan yang sudah terancap kuat pada diri mereka masing-masing,
sehingga memberikan kekokohan pijakan untuk maju bersama, bahagia bersama, dan
sulit bersama.
Namun,
amat disayangkan pada pertengahan abad 17M, para imperialis sedikit demi
sedikit, hari demi hari memasuki daerah kaum muslim, tidak hanya sekedar untuk jalan-jalan, namun meniti keadaan untuk
membuat sebuah perubahan besar, hingga akhirnya wilayah kaum muslim yang sangat
kokoh perlahan-lahan dijajah dan dihancurkan, penjajahan
yang dulu dilakukan secara langsung, kini telah bersalin rupa menjadi penjajahan
gaya baru yang lebih halus dan canggih. Di bidang ekonomi, Barat
menerapkan pemberian utang luar negeri, privatisasi, globalisasi, pengembangan
pasar modal, dan sebagainya. Di bidang budaya, Barat mengekspor liberalisme
melalui film, lagu, novel, radio, musik, dan lain-lain. Di bidang politik,
Barat memaksakan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme, dan
lain-lainnya. Bentuk-bentuk penjajahan gaya baru ini dapat berlangsung, karena
kondisi umat yang terpecah-belah tadi. Kondisi cerai berai ini dengan
sendirinya membuat umat muslim menjadi lemah dan ringkih.
Dan
akhirnya, para imperialis yaitu Amerika, Jerman, Belanda, Rusia, ddl dapat tertawa
lebar dengan hasil karyanya yang dapat memecah belah negeri kaum muslim dengan
menerapkan sistem Nasionalisme yang merupakan suatu ikatan untuk mempersatukan
sekelompok manusia berdasarkan kesamaan identitas sebagai sebuah bangsa.
Sehingga
dapat dilihat faktanya, nasionalis telah menghancur leburkan persatuan umat Islam,
wilayah-wilayah dibagi berdasarkan kesamaan ras,
budaya, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Sehingga tidak ada lagi yang namanya
satu pemikiran, satu perasaan, dan satu peraturan melainkan rela bekorban untuk
bangsanya, rela mati demi menyelamatkan bangsanya, begitulah yang terjadi
sekarang .
Padahal,
ikatan nasionalis ini sangat rendah
nilainya, dan senantiasa emosional yang semu sifatnya. Ikatan ini muncul
hanya ketika ada serangan yang membangkitkan hawa nafsu semata. Seperti
Indonesia diserang oleh penjajah, maka ia akan melawan, jika musuh menyerah
maka sirna pula lah kekuatan ikatan ini. Ikatan ini jugalah yang membuat
hilangnya rasa empati pada diri kaum muslim antara satu dengan lainnya.
Contohnya, kaum muslim di Syuriah sedang di serang, apakah kaum muslim lainnya
ikut berjuang, membantu dan menolongnya? amat menyedihkan, yang terjadi
ternyata sebaliknya. Kaum muslim yang lain seolah buta dan tuli untuk tidak
melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi pada saudaranya, bahkan mereka
tidak mau capek-capek memikirkan itu, karenakan bukan bangsanya, maka bukan
saudaranya pula. Padahal, seorang muslim itu saling bersaudara.
Sesungguhnya
orang-orang beriman adalah bersaudara. (QS Al
Hujurat : 13)
Dan
yang membedakan antara seseorang dengan seseorang lainnya bukanlah karena kesamaan
ras, budaya, bahasa, sejarah, dan sebagainya melainkan karena aqidah Islamiyah yaitu (iman), bukan yang
lain. Rasulullah SAW bahkan mengharamkan ikatan
ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang
bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme.
Tidak
tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti
nasionalisme). (HR. Abu Dawud)
Oleh
karena itu, kita tidak bisa membiarkan ikatan ini terus berkuasa, menghancurkan
pemikiran-pemikiran umat, maka kita harus mengubahnya dengan sama-sama berjuang
menegakkan syariat islam untuk menanti peradapan gemilang yang sudah di depan
mata. Allahuakbar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar