Kamis, 11 April 2013

Membuang Nasionalisme Pada Tempatnya


               Makin hari kondisi umat muslim semakin memilukan, mulai dari terpecah belahnya wilayah kaum muslimin menjadi 57 bagian, atau lebih kecil lagi, hingga hancurnya pemikiran Islam pada tiap-tiap insan, bahkan yang muslim dengan nonmuslim hampir tidak bisa dibedakan. Padahal, dahulu negara islam adalah satu bagian utuh, satu tubuh, satu pijakan dan satu gerakan  yang sulit dipisahkan karena memiliki karakter umatan wahidan yang sudah terancap kuat pada diri mereka masing-masing, sehingga memberikan kekokohan pijakan untuk maju bersama, bahagia bersama, dan sulit bersama.
                Namun, amat disayangkan pada pertengahan abad 17M, para imperialis sedikit demi sedikit, hari demi hari memasuki daerah kaum muslim, tidak hanya sekedar  untuk jalan-jalan, namun meniti keadaan untuk membuat sebuah perubahan besar, hingga akhirnya wilayah kaum muslim yang sangat kokoh perlahan-lahan dijajah dan dihancurkan, penjajahan yang dulu dilakukan secara langsung, kini telah bersalin rupa menjadi penjajahan gaya baru yang lebih halus dan canggih. Di bidang ekonomi, Barat menerapkan pemberian utang luar negeri, privatisasi, globalisasi, pengembangan pasar modal, dan sebagainya. Di bidang budaya, Barat mengekspor liberalisme melalui film, lagu, novel, radio, musik, dan lain-lain. Di bidang politik, Barat memaksakan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme, dan lain-lainnya. Bentuk-bentuk penjajahan gaya baru ini dapat berlangsung, karena kondisi umat yang terpecah-belah tadi. Kondisi cerai berai ini dengan sendirinya membuat umat muslim menjadi lemah dan ringkih.
                Dan akhirnya, para imperialis yaitu Amerika, Jerman, Belanda, Rusia, ddl dapat tertawa lebar dengan hasil karyanya yang dapat memecah belah negeri kaum muslim dengan menerapkan sistem Nasionalisme yang merupakan suatu ikatan untuk mempersatukan sekelompok manusia berdasarkan kesamaan identitas sebagai sebuah bangsa.
                Sehingga dapat dilihat faktanya, nasionalis telah menghancur leburkan persatuan umat Islam, wilayah-wilayah dibagi berdasarkan kesamaan ras, budaya, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Sehingga tidak ada lagi yang namanya satu pemikiran, satu perasaan, dan satu peraturan melainkan rela bekorban untuk bangsanya, rela mati demi menyelamatkan bangsanya, begitulah yang terjadi sekarang .
                Padahal, ikatan nasionalis ini sangat rendah  nilainya, dan senantiasa emosional yang semu sifatnya. Ikatan ini muncul hanya ketika ada serangan yang membangkitkan hawa nafsu semata. Seperti Indonesia diserang oleh penjajah, maka ia akan melawan, jika musuh menyerah maka sirna pula lah kekuatan ikatan ini. Ikatan ini jugalah yang membuat hilangnya rasa empati pada diri kaum muslim antara satu dengan lainnya. Contohnya, kaum muslim di Syuriah sedang di serang, apakah kaum muslim lainnya ikut berjuang, membantu dan menolongnya? amat menyedihkan, yang terjadi ternyata sebaliknya. Kaum muslim yang lain seolah buta dan tuli untuk tidak melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi pada saudaranya, bahkan mereka tidak mau capek-capek memikirkan itu, karenakan bukan bangsanya, maka bukan saudaranya pula. Padahal, seorang muslim itu saling bersaudara.
                Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. (QS Al Hujurat : 13)
                Dan yang membedakan antara seseorang dengan seseorang lainnya bukanlah karena kesamaan ras, budaya, bahasa, sejarah, dan sebagainya melainkan karena  aqidah Islamiyah yaitu (iman), bukan yang lain. Rasulullah SAW bahkan mengharamkan ikatan  ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme.
                Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)
                Oleh karena itu, kita tidak bisa membiarkan ikatan ini terus berkuasa, menghancurkan pemikiran-pemikiran umat, maka kita harus mengubahnya dengan sama-sama berjuang menegakkan syariat islam untuk menanti peradapan gemilang yang sudah di depan mata. Allahuakbar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar