Jumat, 01 Februari 2013

My mom, my everything



                                                              Umiku...

Beliau bernama Ita Rosita aku memanggilnya dengan sebutan umi. Ia adalah seorang wanita yang di besarkan di lampung, 18 Apri  1969. Memiliki wajah yang awet muda, mata yang besar, kulit yang putih,  tinggi yang hampir sama denganku dan sedikit besar. Maklum umiku sudah mempunyai 6 orang anak. Yang pertama kakakku Mubarak, yang kedua aku, yang ketiga Ihsan, keempat Rusyda, kelima Zayyin dan yang keenam Fahma.  Jika di jumlah ada 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Tak jarang rumahku ramai oleh kami yang bertengkar, ketawa-ketiwi, bercanda, berbincang dan hal-hal sebagainnya. Orang-orang sering bilang kalau keluargaku banyak  banget . Dengan bangga umiku mengganggukan kepala.  Umiku memang tidak ingin membatasi jumlah anaknya. Tidak seperti ibu-ibu yang lainnya yang sudah terprogam sistem KABE. 2 anak lebih baik. Tetapi kata umiku banyak anak maka banyak pula rezekinya.  Ternyata memang betul, abi tidak pernah merasa kesusahan untuk membiayai hidup kami, kalaupun kesusahan pasti ada saja rezeki yang datang.
Di balik umiku yang tegar terdapat sesosok bapak yang bertugas menafkahkan istri dan anaknya. Dialah Eddy Wanto. Aku memanggilnya abi. Tapi sering teman-temannya memanggil dengan sebutan ustadz atau pak haji. Walaupun ia belum haji. Mungkin karena ia sering mengenakan peci. Maka abiku hanya mengamininya. Abiku menikahi umi pada tahun 1996. Maka pada saat ini pernikahannya sudah menginjak 16 tahun .  Waktu itu umi dan abi di pertemukan  di sebuah  pesantren yang terletak di Bogor.  Dari sinilah  lalu mereka menikah. Banyak yang bilang kepada abiku “ kalau nyari istri gak usah jauh-jauh”. Karena memang  abiku berasal dari pulau Madura sedangkan Umi berasal dari pulau Sumatera.  Tetapi cinta yang menyatukan mereka. Haha. Aku lihat umi sangat sayang kepada  abi. Umi selalu menanyakan abi sudah makan belum? Abi capek ya? Kalaupun abi sedang bekerja hingga berminggu-minggu tak pulang, maka setiap hari umi akan menelfon dan menanyakan kabarnya.
Umi dan abiku juga sangat kompak untuk mentukan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin masa depan anak-anaknya seperti mereka saat ini. Maka dipilihlah sekolah-sekolah yang terbaik. Sekolah-sekolah  yang menyelamatkan anak-anaknya dari dunia dan akhirat. Mereka juga sangat menginginkan anak-anaknya menjadi para penghafal qur’an.  Maka di masukanlah sebagian anaknya termasuk aku ke  sekolah Khoiru Ummah yang target utamanya menjadi penghafal qur’an.  Dan dua orang jagonnya yaitu kakak dan Ihsan mereka di masukan ke pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur. Di sana mereka berdua mendapatkan bea siswa karena hafalannya yang sudah banyak. Di sana juga, apabila sudah hafal al-qur’an maka akan segera di bawa ke Timur Tengah. Itulah cita-cita mereka berdua dan aku. Inilah yang membuat umi dan abi haru dan bangga.
Dengan kelemah lembutan hatinya, umi sering kangen dengan anak-anaknya yang berada di pesantren. Maka setiap dua minggu sekali kami sekeluarga akan pergi ke Darul Qur’an yang terletak lumayan jauh di Tanggerang.
Dengan begitu semua anaknya lebih sayang kepada umi di banding abi. Aku juga sudah menganggapnya menjadi sahabat sendiri. Umi adalah trainer bagiku.  Aku sering bercerita kepadanya  tentang  kebahagiaan, kesedihan dan cinta yang ku alami. Dengan begitu umi akan mengasih sarannya yang terbaik. Dengan jiwanya yang periang tidak hanya aku yang mencintainnya tetapi teman-teman umi juga ikut mencintainnya. Oleh karena itu umi sering di tunjuk menjadi MC atau pengisi  di sebuah acara. karena katannya ibu-ibu yang di isi sama bu Ita jadi semangat semua.
Umi juga sebagai koki di keluargaku. Semua kelurgaku sangat menyukai makanannya.  Karena masakannya tak kalah enak dengan yang ada di restoran. Terlebih sambalnya yang sangat khas di mulutku. Rasa pedas yang sangat menggugah selera. Sehingga membuatku menambah-menambah-dan menambah lagi.  Jika umi sedang tidak membuat makanan, aku akan merengek kepadanya  agar ia memasak. Dan aku tidak akan memakan makanan yang umi beli di rumah makan karena rasanya tidak akan  sama dengan buatan umiku.
Tidak hanya kepandaian dalam memasak. Umiku juga sangat pintar, oleh karena itu umi mendapatkan bea siswa saat masuk kulihnya. Hingga saat ini, umilah yang membantuku dalam mengerjakan PR sekolah. Umi sangat sabar dan detail mengajariku hingga aku bisa. Begitu juga dalam mengajari adik-adikku membaca dan menghafal al-qur’an. Hingga akhirnya umi menjadi guru (metode ummi) di SD Khoiru Ummah.
Umi juga adalah sosok yang tegas. ia akan bertindak jika ada sesuatu yang tak sesuai baginya. Hingga suatu hari aku mengeluh tentang sekolahku yang tak enak. Dan pada saat itu juga umi segera menghubungi kepala sekolahku untuk mengkoordinasikan. Umiku juga pemberani. Jika ada masalah ia akan segera menyelesaikannya  tidak untuk mengosipinya. Dan satu hal yang aku sukai dari umiku yaitu suka bercanda dan membuat lucu susana . Dan terkadang akulah yang menjadi korbannya. Aku suka di jodoh-jodokan dengan anak teman umi. Aku sangat malu. Hingga waktu itu semua ibu-ibu tertawa mendengarnya. Aku juga sangat menyukai ketawa khas umi. Dan tak tahu kenapa ketawanya membuat semua orang yang melihatnya ikut tertawa juga. Jangan salah, umiku juga bisa marah lho.. dan aku sangat takut jika umi marah. Karena marahnya menyeramkan, bisa-bisa tetangga samping kanan samping kiripun  juga  mendengarnya.  
Saat ini, pekerjaannya  adalah sebagai ibu rumah tangga dan pendakwah. Oleh karena itu, umi lebih sering berada di rumah. Kalaupun berpergian, tidak akan jauh dari sekeliling rumah. Umi  juga akan selalu meluangkan waktunya di sela-sela dakwah untuk menemani anak-anaknya berjalan-jalan. Ia juga sangat senang apabila seluruh anggota keluarganya berkumpul. Namun saat ini kami hanya bisa berkumpul pada saat-saat tertentu saja. Karena aku, kakak dan Ihsan berada di  pesantren. Oleh karena itu saat kami sekeluarga sedang lengkap, abi selalu mengabdikannya dalam jepretan kamera.
                My mom, my everything. Itulah kata-kata terakhir yang ingin aku katakan kepada umiku.  Rasanya, kalaupun aku menceritakan semuanya seluruh kertas di duniapun tak akan cukup untuk membalas jasanya. Semua sudah di berikan kepadaku secara total. Kelembutan hatinya, kasih sayangnya, perhatiannya, pengorbanannya hingga cinta yang belum pernah aku temukan sebelumnya  dalam sejarah hidupku. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar