Umiku...
Beliau bernama Ita Rosita aku
memanggilnya dengan sebutan umi. Ia adalah seorang wanita yang di besarkan di
lampung, 18 Apri 1969. Memiliki wajah
yang awet muda, mata yang besar, kulit yang putih, tinggi yang hampir sama denganku dan sedikit
besar. Maklum umiku sudah mempunyai 6 orang anak. Yang pertama kakakku Mubarak,
yang kedua aku, yang ketiga Ihsan, keempat Rusyda, kelima Zayyin dan yang
keenam Fahma. Jika di jumlah ada 2 orang
laki-laki dan 4 orang perempuan. Tak jarang rumahku ramai oleh kami yang
bertengkar, ketawa-ketiwi, bercanda, berbincang dan hal-hal sebagainnya.
Orang-orang sering bilang kalau keluargaku banyak banget . Dengan bangga umiku mengganggukan
kepala. Umiku memang tidak ingin
membatasi jumlah anaknya. Tidak seperti ibu-ibu yang lainnya yang sudah
terprogam sistem KABE. 2 anak lebih baik. Tetapi kata umiku banyak anak maka
banyak pula rezekinya. Ternyata memang
betul, abi tidak pernah merasa kesusahan untuk membiayai hidup kami, kalaupun
kesusahan pasti ada saja rezeki yang datang.
Di balik umiku yang tegar terdapat
sesosok bapak yang bertugas menafkahkan istri dan anaknya. Dialah Eddy Wanto.
Aku memanggilnya abi. Tapi sering teman-temannya memanggil dengan sebutan
ustadz atau pak haji. Walaupun ia belum haji. Mungkin karena ia sering
mengenakan peci. Maka abiku hanya mengamininya. Abiku menikahi umi pada tahun
1996. Maka pada saat ini pernikahannya sudah menginjak 16 tahun . Waktu itu umi dan abi di pertemukan di sebuah pesantren yang terletak di Bogor. Dari sinilah lalu mereka menikah. Banyak yang bilang kepada
abiku “ kalau nyari istri gak usah jauh-jauh”. Karena memang abiku berasal dari pulau Madura sedangkan Umi
berasal dari pulau Sumatera. Tetapi
cinta yang menyatukan mereka. Haha. Aku lihat umi sangat sayang kepada abi. Umi selalu menanyakan abi sudah makan
belum? Abi capek ya? Kalaupun abi sedang bekerja hingga berminggu-minggu tak
pulang, maka setiap hari umi akan menelfon dan menanyakan kabarnya.
Umi dan abiku juga sangat kompak
untuk mentukan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin masa depan anak-anaknya
seperti mereka saat ini. Maka dipilihlah sekolah-sekolah yang terbaik. Sekolah-sekolah
yang menyelamatkan anak-anaknya dari
dunia dan akhirat. Mereka juga sangat menginginkan anak-anaknya menjadi para
penghafal qur’an. Maka di masukanlah
sebagian anaknya termasuk aku ke sekolah
Khoiru Ummah yang target utamanya menjadi penghafal qur’an. Dan dua orang jagonnya yaitu kakak dan Ihsan mereka
di masukan ke pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur. Di sana mereka berdua
mendapatkan bea siswa karena hafalannya yang sudah banyak. Di sana juga,
apabila sudah hafal al-qur’an maka akan segera di bawa ke Timur Tengah. Itulah
cita-cita mereka berdua dan aku. Inilah yang membuat umi dan abi haru dan
bangga.
Dengan kelemah lembutan hatinya,
umi sering kangen dengan anak-anaknya yang berada di pesantren. Maka setiap dua
minggu sekali kami sekeluarga akan pergi ke Darul Qur’an yang terletak lumayan
jauh di Tanggerang.
Dengan begitu semua anaknya lebih
sayang kepada umi di banding abi. Aku juga sudah menganggapnya menjadi sahabat
sendiri. Umi adalah trainer bagiku. Aku
sering bercerita kepadanya tentang kebahagiaan, kesedihan dan cinta yang ku
alami. Dengan begitu umi akan mengasih sarannya yang terbaik. Dengan jiwanya
yang periang tidak hanya aku yang mencintainnya tetapi teman-teman umi juga
ikut mencintainnya. Oleh karena itu umi sering di tunjuk menjadi MC atau
pengisi di sebuah acara. karena katannya
ibu-ibu yang di isi sama bu Ita jadi semangat semua.
Umi juga sebagai koki di
keluargaku. Semua kelurgaku sangat menyukai makanannya. Karena masakannya tak kalah enak dengan yang
ada di restoran. Terlebih sambalnya yang sangat khas di mulutku. Rasa pedas
yang sangat menggugah selera. Sehingga membuatku menambah-menambah-dan menambah
lagi. Jika umi sedang tidak membuat
makanan, aku akan merengek kepadanya
agar ia memasak. Dan aku tidak akan memakan makanan yang umi beli di
rumah makan karena rasanya tidak akan sama dengan buatan umiku.
Tidak hanya kepandaian dalam
memasak. Umiku juga sangat pintar, oleh karena itu umi mendapatkan bea siswa
saat masuk kulihnya. Hingga saat ini, umilah yang membantuku dalam mengerjakan
PR sekolah. Umi sangat sabar dan detail mengajariku hingga aku bisa. Begitu
juga dalam mengajari adik-adikku membaca dan menghafal al-qur’an. Hingga
akhirnya umi menjadi guru (metode ummi) di SD Khoiru Ummah.
Umi juga adalah sosok yang tegas.
ia akan bertindak jika ada sesuatu yang tak sesuai baginya. Hingga suatu hari
aku mengeluh tentang sekolahku yang tak enak. Dan pada saat itu juga umi segera
menghubungi kepala sekolahku untuk mengkoordinasikan. Umiku juga pemberani.
Jika ada masalah ia akan segera menyelesaikannya tidak untuk mengosipinya. Dan satu hal yang
aku sukai dari umiku yaitu suka bercanda dan membuat lucu susana . Dan
terkadang akulah yang menjadi korbannya. Aku suka di jodoh-jodokan dengan anak
teman umi. Aku sangat malu. Hingga waktu itu semua ibu-ibu tertawa mendengarnya.
Aku juga sangat menyukai ketawa khas umi. Dan tak tahu kenapa ketawanya membuat
semua orang yang melihatnya ikut tertawa juga. Jangan salah, umiku juga bisa
marah lho.. dan aku sangat takut jika umi marah. Karena marahnya menyeramkan,
bisa-bisa tetangga samping kanan samping kiripun juga mendengarnya.
Saat ini, pekerjaannya adalah sebagai ibu rumah tangga dan
pendakwah. Oleh karena itu, umi lebih sering berada di rumah. Kalaupun
berpergian, tidak akan jauh dari sekeliling rumah. Umi juga akan selalu meluangkan waktunya di
sela-sela dakwah untuk menemani anak-anaknya berjalan-jalan. Ia juga sangat
senang apabila seluruh anggota keluarganya berkumpul. Namun saat ini kami hanya
bisa berkumpul pada saat-saat tertentu saja. Karena aku, kakak dan Ihsan berada
di pesantren. Oleh karena itu saat kami
sekeluarga sedang lengkap, abi selalu mengabdikannya dalam jepretan kamera.
My mom, my everything. Itulah
kata-kata terakhir yang ingin aku katakan kepada umiku. Rasanya, kalaupun aku menceritakan semuanya
seluruh kertas di duniapun tak akan cukup untuk membalas jasanya. Semua sudah
di berikan kepadaku secara total. Kelembutan hatinya, kasih sayangnya,
perhatiannya, pengorbanannya hingga cinta yang belum pernah aku temukan
sebelumnya dalam sejarah hidupku. 

Tidak ada komentar:
Posting Komentar